Mengangkasa dalam
Pudar
M. Rafid Nadhif R.
Napasku terengah-engah tak
beraturan, saling susul menysul tanpa jeda. Bagai pelari yang sedang beradu
kecepatan dalam arena lomba maraton. Meski aku sudah mencoba menghentikannya ;
memaksanya agar beritme seperti sediakala.
Seorang guru berwajah teduh
memanggilku. Sepersekian detik merayap, tangan dengan pancaran kasih sayang
merangkul pundakku.
“Ieu nu namina
Asih teh? Aduh, meuni geulis kabina-binaⁱ.”
Aku tersipu, kemudian berjalan beriringan bersama guru
tersebut. Memasuki sebuah gedung semi bobrok, yang kau percaya atau tidak itu
adalah sekolah baruku.
***
Hening mendominasi kelas berukuran 6
x 10 meter yang kini sedang aku pijaki. Semuanya duduk rapi di masing-masing
bangku, tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Begitu pula aku, sang murid
baru di sekolah ini. Mataku tak henti-hentinya berkelana ke sana-kemari,
menyapu pandangan.
Jendela-jendela rapuh tanpa kaca berjejer rapi di
dinding kelas. Membiarkan teriknya sinar matahari menyeruak masuk ke dalam
kelas bersamaan dengan desiran angin yang kadangkala menusuk kulit. Dinding
berlapis cat putih, terkelupas sedikit demi sedikit. Membuka, membuka, dan
terus membuka bagai sepatu jebol menganga hingga akhirnya terbang tanpa daya ke
tanah. Ya, tanah. Bukan keramik kaca, lantai pualam, atau semacamnya. Hanya
tanah.
Hening terus menghinggapi kelas, tidak ada satu mulut
pun melayangkan kata-kata. Ini bertolak
belakang dengan kelasku kini. Jika mereka di sini sangat membiarkan suara-suara
kecil mendominasi, maka mereka di sana –para teman-temanku dulu—memusnahkan
suara-suara kecil, menggantikannya oleh suara masing-masing. Setiap pelajaran
kosong menjemput, kelas seketika gaduh tiada terkira. Berbagai kesibukan
dilakukan, berbagai kebahagiaan melayang-layang. Bersatu dalam partikel udara
yang mengalir di seisi kelas.
Semenjak aku bersekolah di sini, kurasa aku pantas
dinobatkan menjadi makhluk paling tidak bersyukur. Relung-relung hatiku selalu
mengutuk semesta. Dinding-dinding kalbuku acap kali berteriak tak terima
realita. Setiap detik aku habiskan untuk melontarkan gerutuan-gerutuan. Semua
ketidak bersyukuranku, semua gerutuan-gerutuanku, semua rutukanku, pada
akhirnya bermuara pada tema ketidakadilan Tuhan. Bukankah begitu adanya?
Ketika aku sedang menikmati indahnya masa putih biruku
di sebuah sekolah favorit kota Bandung, aku harus menghilang dari semua itu.
Duniaku direnggut. Takdirku menuntuntunku untuk memulai perjalanan dan dunia
baru. Yaitu pindah ke sebuah daerah terpencil yang pada saat awal mendengarnya
saja aku tergelitik. Daerah itu bernama Citomo. Berada di Desa Sekarwangi,
Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Jauh dari hikuk pikuk kota, jauh dari
ingar bingar tembok beton. Pada awalnya, aku memberontak. Meluapkan semua
amarahku, berharap Ibu mendengarkan keluh kesahku. Tapi, Ibu tetap saja tegas
dan bersikeras. Selalu saja Ibu berkata kepadaku, “Ini tugas negara, nak. Ibu
harus menjadi dokter di daerah terpencil dulu selama beberapa tahun. Mau tidak
mau, kamu harus ikut. Kalau tidak ikut,
kamu mau tinggal di mana? Akan menyulap jalanan menjadi rumah?”
Aku menghela napas panjang, tak lupa untuk
mengeluarkan kawanan karbondioksida-nya. Hening dan tetap hening. Hinga kapan
keheningan ini akan berakhir? Entah karena naluri apa, tiba-tiba aku spontan
berdiri. Lantas berjalan menuju depan kelas. Aku seperti dikendalikan oleh
seseorang, namun pada realitanya tidak ada.
Di depan kelas, aku mengulum senyum. Membiarkan mulut
merah delimaku merekah indah, menyiratkan buih-buih cinta. Kompak, sembilan
belas teman di hadapanku mengarahkan fokusnya kearahku. Memperhatikan
lamat-lamat seorang Larasati Weningasih yang tengah menebarkan senyum
termanisnya.
“Ehm,” dehamanku merobek keheningan. Jantungku
berdegup kencang. Pada akhirnya, kata demi kata terucap dari bibirku. “Maaf
sebelumnya aku mengganggu keheningan kalian. Tapi aku merasa terganjal dengan
suasana amat hening ini. Di Bandung, saat pelajaran kosong kelasku selalu ribut
minta ampun. Mengapa di sini kalian saling mengunci mulut?”
“Aku yakin, orang-orang
Citomo itu baik dan asyik. Pada awalnya, aku menolak pindah ke daerah terpencil
seperti di sini. Tapi Ibuku tetap tegas karena memang kewajiban beliau pindah
ke sini. Maka mau tidak mau aku harus ikut.” Karena tidak kuat berbicara lama,
aku bernapas sejenak. Lalu kembali menghela napas, bersiap kembali berbicara.
“Sebelum pindah ke sini, aku benar-benar mengumpulkan niat. Setiap istirahat
menjelang, aku mengajak teman-teman untuk shalat Dhuha. Aku limpahkan semuanya
di atas selembar sajadah. Usai shalat, aku dan para sahabatku ke kantin sembari
mendengarkan curhatku.”
“Tapi, kenapa kalian begini? Jangan sampai kalian
membuatku menyesal pindah ke sini. Aku telah berharap banyak dari kalian.”
Suaraku memelan.
Untuk pertama kalinya hening tak hinggap lagi di kelas
ini. Kelas mulai ramai, walau intensitas suaranya sangat kecil. Dan… Alangkah
kagetnya aku kala aku tahu, seluruh teman perempuanku mengeluarkan kristal-kristal
bening dari kelopak matanya. Aku tertegun, semakin penasaran. Ada apa dengan
mereka?
Di sudut belakang kanan kelas, seorang anak laki-laki
berhidung mancung bak puncak gunung Everest berdiri. Aku lupa siapa namanya,
kalau tidak salah dari A.
“Asih, kami punya cerita. Benar, masyarakat Citomo
memang mengasyikan dan ramah, begitu pula kami. Dulu, rasa kekeluargaan yang
kentara ada di kelas kami. Namun kami begini karena suatu hal..” Ia membuka
suara, seakan bisa menebak apa isi pikiranku. Kemudian ia gantungkan kata-katanya,
membuat rasa penasaranku bertambah. Berkelindan dalam benak.
“Dan itu karena kami berbeda. Ini semua karena
perbedaan. Karena perbedaanlah kami jadi saling membenci dalam diam.” Timpal
Neneng di antara tangisnya.
Aku semakin tidak megerti dengan kelas ini.
***
Letak Citomo sangat jauh dari pusat kabupaten Garut.
Tidak ada satu angkutan umum yang berani memutar rodanya hingga ke Citomo.
Hanya bisa menaiki angkutan umum sampai Cilampuyang saja, lalu dari Cilampuyang
harus menaiki ojeg. Tarifnya dipatok sekitar dua puluh ribu rupiah. Cukup
mahal, sebab memang tempuhan jalannya menun cukup tajam. Tak sampai di situ
saja, setelah sekitar 2 km naik ojeg, masih ada tempuahn yang harus dilewati.
Yaitu berjalan kaki sepanjang 1,5 km menuruni jalan setapak, melewati hutan
berpepohonan rimbun.
Citomo memiliki satu sekolah menengah pertama. Berdiri
di antara hamparan hijau padi. Sekolahnya kecil, hanya memiliki 6 ruang kelas,
1 ruang perpustakaan, 2 bilik toilet, dan ruang guru beserta ruang kepala
sekolah. Ruangan kelasnya pun hanya berukuran 6 x 10 m. Pembagian kelas di
sana, sesuai tingkat kepintaran. Setiap tingkat (7,8,9) ada dua kelas : kelas A
untuk para siswa pintar dan rata-rata memiliki ekonomi mencukup, sisanya kelas B.
Kelas B-lah sebuah kelas penyisaan, terdapatnya siswa-siswi yang beraneka ragam
dari segi apapun, baik kepribadian maupun ekonomi.
Walaupun terpencil hingga nyaris terlupakan, Citomo
masih memegang teguh budaya Sunda. Tarian ketuk tilu masih hidup, tetap
berkibar di tanah Citomo. Padahal, di banyak daerah tari ketuk tilu sudah
menghilang. Karena memang, tarian ketuk tilu sudah berkembang menjadi tari
jaipong. Menurut sejarahnya, tarian ketuk tilu dilakukan sebagai upacara adat
setiap menyambut panennya padi. Dulu, tarian ketuk tilu itu dipersembahkan
kepada Dewi Sri—dewi padi dalam kepercayaan rakyat Sunda. Akan tetapi, dewasa
ini penduduk Citomo sudah memiliki agamanya masing-masing. Niat untuk
mempersembahkan kepada Dewi Sri-nya pun dihapuskan.
Untuk melestarikan tarian ketuk tilu, bila panen padi
akan tiba di Citomo diadakan pentas
tarian ketuk tilu dari berbagai lapisan penduduk. Dari mulai anak SD, SMP, SMA,
karang taruna, hingga para orang tua. Pentas tari itu ditonton oleh seluruh
penduduk Citomo tanpa pengecualian.
Sudah dua tahun berturt-turut, saat kelas 7 dan 8,
kelas 9 B –kelasnya tidak diacak, dari kelas tujuh akan sama—gagal mementaskan
tari ketuk tilu. Kelas 7 mereka memang pusing akan gerakan tari ketuk tilu
hingga Bu Euis, guru kesenian menyerah mengajarkan mereka. Terang saja, mereka
rata-rata memiliki nilai akademis kurang. Para guru pun memandang kelas itu
pudar kelas B, tidak bersinar seperti kelas A.
Ketika kelas 8, mereka ingin berubah. Mereka ingin berusaha mempelajari
tari ketuk tilu agar saat pentas tidak gagal. Tapi, Bu Euis malah sibuk
mengajari anak kelas A. Sama halnya seperti tahun ini, itu sebabnya mengapa
sering terjadi pelajaran kosong di kelas 9 B. Para guru berbondong-bondong
mengajari kelas 9 A untuk tari ketuk tilu.
Selain itu, para murid kelas 9 A jadi memandang rendah
kelas 9 B. Mereka selalu menganggap pudar kelas 9 B, menganggap kelas 9B tidak
bisa apa-apa karena mereka adalah murid penyisaan. Murid penyisaan yang terdiri
dari latar belakang berbeda-beda. Kelas 9 A dan para guru kebanyakan
menganggap, bahwa keberbedaan merupakan penghalang untuk maju.
***
“Jadi begitulah ceritanya. Bahkan kini pelajaran
kosong datang ke kelas kita pun bukan karena gurunya tidak hadir, melainkan
paraguru sedang mengajari kelas 9 A.” Tati yang telah bercerita panjang lebar,
mengusap air matanya.
Kendati tidak mengerti, aku mencoba melihat fakta ;
aku berjalan meninggalkan kelas lantas berjalan mengendap-endap di luar dan
memperhatikan kelas 9 A dari celah-celah pintu. Fakta telah kudapat. Itu
menamparku. Ada empat guru di dalam sana. Salah satunya adalah Bu Euis, guru
kesenian. Beliau seharusnya mengajar di kelas kami, kelas 9 B. Oleh mata
telanjang, aku mendapati keempat guru itu sedang menari-nari. Entah menari apa.
Mungkin menari ketuk tilu, seperti yang tadi diceritakan Tati tadi. Ah, detik
itu juga aku merasa iba dengan kelasku sendiri. Ini semua tidak adil, aku
mencium bau diskriminasi di sini. Aku pun berlari ke kelas.
***
Aku memasuki kelas dengan gejolak kesedihan yang luar
biasa, lantas kembali duduk bergabung dalam formasi lingkaran kelas 9 B. Memang
beberapa menit ke belakang, akumeminta mereka menceritakan semuanya. Rupanya,
mereka hangat merespons. Alhasil, kami duduk membentuk formasi melingkar di
depan kelasemudian Tati mencertakan semuanya.
Begitu aku duduk, sebuah ide
terbersit. Seketika aku merasa ada bohlam di dekat kepalaku berpendar terang.
“Ah, aku punya ide!” seruku bersemangat.
Kesembilan belas temanku
berlomba-lomba bertanya mengenai ideku tersebut. Mereka begitu bersemangat.
Semangat mereka sukses menyulut kembali api semangatku, membuatnya
berkobar-kobar hebat. Aku pun mengutarakan semua ideku. Mata penuh binar terlihat kala aku selesai mengutarakan ideku.
Semuanya memancarkan aura keoptimisan.
***
Hangatnya malam penuh gemintang menyelimuti pentas
tari ketuk tilu kampung Citomo. Di atas panggung pentas—tanah beralaskan tikar
anyaman khas Citomo—kami, anak 9 B telah berdiri tegak. Kami pun mengucap
salam, pertanda pertunjukan telah dimulai. Semua anak 9 B menepi ke pinggir
panggung, kecuali Yayah. Di tengah, ia lantang mengumandangkan madah.
Usai puisi dibacakan oleh Yayah, kedelapan temanku,
Tina, Aep, Yeti, Erna, Yuli, Yusuf, Ikin, dan Ikah mementaskan sebuah drama.
Drama itu bertemakan tentang tradisi tari ketuk tilu did aerah Citomo. Latarnya
dibuat pada zaman dahulu, era 70-an. Hingga di adegan terakhir drama tersebut,
mereka menonton pagelaran tari ketuk tilu. Sekarang, giliran aku dan kesembilan
teman lainnya yang beraksi.
Alunan irama kebab, kendang indung, dan kulanter
bertalu-talu, melebur menjadi suatu
kesatuan indah. Dalam alunan iringan tari ketuk tilu, sepuluh orang dari kelas
9 B memperagakan tari ketuk tilu. Ujang, Asep, Agus, Budi, Tisna, Lala, Tati,
Neneng, Irun, dan Entin percaya diri menggoyangkan badan, menarikan gerakan
depok, bajing luncat, oray-orayan, lengkah opat, dan karet. Mereka menggunakan
kostum kampret (baju pangsi hitam) khas Sunda dengan ikat kepala dan golok yang
menggantung di sabuk kulit untuk laki-laki dan menggunakan kebaya dengan celana
sinjang pada bagian bawah, serta sanggul diibuat di kepala untuk perempuan.
Di ujung panggung, mulutku melantunkan lagu kidung dan
erang. Dua lagu wajib pada tari ketuk tilu. Lalu, disusul oleh tiga lagu yaitu
cikeruhan, cijagran, dan mamang. Tanpa terasa, pertunjukan dari kelas 9 B pun
selesai. Pada saat itu, tepukan tangan ramai terdengar. Menggema ke seluruh
pelosok kampung. Semaunya terpukau karena penampilan kami, kelas 9 B. Terlebih,
anak kelas 9 A dan para guru, mereka kaget bukan kepalang saat tahu penampilan
9 B lebih bagus dibandingkan kelas 9 A. Pasalnya, penampilan kelas 9 B paling
berbeda dengan yang lain , sebab telah dimodifikasi—bukan hanya menampilkan
tari ketuk tilu saja.
Lalu, aku dan kesembilan belas anak 9 B lainnya
berjajar di atas panggung. “Penampilan kami menunjukkan, bahwa perbedaan
membuat suatu kesempurnaan. Kami memang tak semuanya lihai memainkan gerak tari
ketuk tilu, tapi kami mempunyai kelebihan masing-masing yang bisa
dimaksimalkan. Ada yang memiliki bakat menyanyi, berpuisi, dan berdrama. Jadi,
bukalah mata mulai sekarang. Yang berbeda tak sepatutnya untuk dipandang
rendah.”
Lagi-lagi, tepuk tangan ramai terdengar. Memeriahkan
kampung Citomo. Detik ini juga, kami—para siswa kelas 9 B—tidak malu lagi
dengan keberbedaan yang kami miliki, justru kami bisa bahagia dalam keberbedaan
ini.
Dan penampilan kelas kami tadi, telah mengonsolidasi
semua warga kampung Citomo bahwa perbedaan bukan sebuah halangan untuk menuju
kesempurnaan.
Malam ini, kelas 9 B sukses mengangkasa. Mengangkasa
dalam pudar mereka, yang sebenarnya pudar itu adalah sinar terpendam. Sinar
yang benar-benar bersinar.
Note :
ⁱ Ini yang namanya Asih? Aduh, cantik sekali bukan main.
Bandung, Agustus 2017
M. Rafid Nadhif R.
***
Heyyo guys, jadi ini cerita pendek-ku yang diikutkan di Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017. Dan cerpen ini belum bisa mengantarkan aku menjadi wakil Jawa Barat di ARKI 2017 itu, heehee :) Tapi gapapa, karena yang penting itu udah mencoba. Lagian kan, yang Allah nilai itu prosesnya, bukan hasilnya. Agree?
Tema cerpen di ARKI 2017 ini "Bahagia dalam Perbedaan".
Dan kritik, saran, pendapat sangat dibutuhkan bangeet. And the last, jangan lupa kalau cerpen itu punya hak cipta di diriku :)
P.s : aku ngepost ini karena terinspirasi sama Kak Salsabila Azzahra dan emang apda dasarnya aku mau ngepost juga sihh. Yuhuuu
Keren ... naskah ARKI gak sebagus ini X"(
BalasHapus*ARKIku
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapus