Selasa, 03 Oktober 2017

Mengangkasa dalam Pudar (Cerpen)


Mengangkasa dalam Pudar
M. Rafid Nadhif R.
            Napasku terengah-engah tak beraturan, saling susul menysul tanpa jeda. Bagai pelari yang sedang beradu kecepatan dalam arena lomba maraton. Meski aku sudah mencoba menghentikannya ; memaksanya agar beritme seperti sediakala.
            Seorang guru berwajah teduh memanggilku. Sepersekian detik merayap, tangan dengan pancaran kasih sayang merangkul pundakku.
“Ieu nu namina Asih teh? Aduh, meuni geulis kabina-bina.”
Aku tersipu, kemudian berjalan beriringan bersama guru tersebut. Memasuki sebuah gedung semi bobrok, yang kau percaya atau tidak itu adalah sekolah baruku.
***
            Hening mendominasi kelas berukuran 6 x 10 meter yang kini sedang aku pijaki. Semuanya duduk rapi di masing-masing bangku, tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Begitu pula aku, sang murid baru di sekolah ini. Mataku tak henti-hentinya berkelana ke sana-kemari, menyapu pandangan.
Jendela-jendela rapuh tanpa kaca berjejer rapi di dinding kelas. Membiarkan teriknya sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kelas bersamaan dengan desiran angin yang kadangkala menusuk kulit. Dinding berlapis cat putih, terkelupas sedikit demi sedikit. Membuka, membuka, dan terus membuka bagai sepatu jebol menganga hingga akhirnya terbang tanpa daya ke tanah. Ya, tanah. Bukan keramik kaca, lantai pualam, atau semacamnya. Hanya tanah.
Hening terus menghinggapi kelas, tidak ada satu mulut pun melayangkan kata-kata. Ini  bertolak belakang dengan kelasku kini. Jika mereka di sini sangat membiarkan suara-suara kecil mendominasi, maka mereka di sana –para teman-temanku dulu—memusnahkan suara-suara kecil, menggantikannya oleh suara masing-masing. Setiap pelajaran kosong menjemput, kelas seketika gaduh tiada terkira. Berbagai kesibukan dilakukan, berbagai kebahagiaan melayang-layang. Bersatu dalam partikel udara yang mengalir di seisi kelas.
Semenjak aku bersekolah di sini, kurasa aku pantas dinobatkan menjadi makhluk paling tidak bersyukur. Relung-relung hatiku selalu mengutuk semesta. Dinding-dinding kalbuku acap kali berteriak tak terima realita. Setiap detik aku habiskan untuk melontarkan gerutuan-gerutuan. Semua ketidak bersyukuranku, semua gerutuan-gerutuanku, semua rutukanku, pada akhirnya bermuara pada tema ketidakadilan Tuhan. Bukankah begitu adanya?
Ketika aku sedang menikmati indahnya masa putih biruku di sebuah sekolah favorit kota Bandung, aku harus menghilang dari semua itu. Duniaku direnggut. Takdirku menuntuntunku untuk memulai perjalanan dan dunia baru. Yaitu pindah ke sebuah daerah terpencil yang pada saat awal mendengarnya saja aku tergelitik. Daerah itu bernama Citomo. Berada di Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Jauh dari hikuk pikuk kota, jauh dari ingar bingar tembok beton. Pada awalnya, aku memberontak. Meluapkan semua amarahku, berharap Ibu mendengarkan keluh kesahku. Tapi, Ibu tetap saja tegas dan bersikeras. Selalu saja Ibu berkata kepadaku, “Ini tugas negara, nak. Ibu harus menjadi dokter di daerah terpencil dulu selama beberapa tahun. Mau tidak mau,  kamu harus ikut. Kalau tidak ikut, kamu mau tinggal di mana? Akan menyulap jalanan menjadi rumah?”
Aku menghela napas panjang, tak lupa untuk mengeluarkan kawanan karbondioksida-nya. Hening dan tetap hening. Hinga kapan keheningan ini akan berakhir? Entah karena naluri apa, tiba-tiba aku spontan berdiri. Lantas berjalan menuju depan kelas. Aku seperti dikendalikan oleh seseorang, namun pada realitanya tidak ada.
Di depan kelas, aku mengulum senyum. Membiarkan mulut merah delimaku merekah indah, menyiratkan buih-buih cinta. Kompak, sembilan belas teman di hadapanku mengarahkan fokusnya kearahku. Memperhatikan lamat-lamat seorang Larasati Weningasih yang tengah menebarkan senyum termanisnya.
“Ehm,” dehamanku merobek keheningan. Jantungku berdegup kencang. Pada akhirnya, kata demi kata terucap dari bibirku. “Maaf sebelumnya aku mengganggu keheningan kalian. Tapi aku merasa terganjal dengan suasana amat hening ini. Di Bandung, saat pelajaran kosong kelasku selalu ribut minta ampun. Mengapa di sini kalian saling mengunci mulut?”
 “Aku yakin, orang-orang Citomo itu baik dan asyik. Pada awalnya, aku menolak pindah ke daerah terpencil seperti di sini. Tapi Ibuku tetap tegas karena memang kewajiban beliau pindah ke sini. Maka mau tidak mau aku harus ikut.” Karena tidak kuat berbicara lama, aku bernapas sejenak. Lalu kembali menghela napas, bersiap kembali berbicara. “Sebelum pindah ke sini, aku benar-benar mengumpulkan niat. Setiap istirahat menjelang, aku mengajak teman-teman untuk shalat Dhuha. Aku limpahkan semuanya di atas selembar sajadah. Usai shalat, aku dan para sahabatku ke kantin sembari mendengarkan curhatku.”
“Tapi, kenapa kalian begini? Jangan sampai kalian membuatku menyesal pindah ke sini. Aku telah berharap banyak dari kalian.” Suaraku memelan.
Untuk pertama kalinya hening tak hinggap lagi di kelas ini. Kelas mulai ramai, walau intensitas suaranya sangat kecil. Dan… Alangkah kagetnya aku kala aku tahu, seluruh teman perempuanku mengeluarkan kristal-kristal bening dari kelopak matanya. Aku tertegun, semakin penasaran. Ada apa dengan mereka?
Di sudut belakang kanan kelas, seorang anak laki-laki berhidung mancung bak puncak gunung Everest berdiri. Aku lupa siapa namanya, kalau tidak salah dari A.
“Asih, kami punya cerita. Benar, masyarakat Citomo memang mengasyikan dan ramah, begitu pula kami. Dulu, rasa kekeluargaan yang kentara ada di kelas kami. Namun kami begini karena suatu hal..” Ia membuka suara, seakan bisa menebak apa isi pikiranku. Kemudian ia gantungkan kata-katanya, membuat rasa penasaranku bertambah. Berkelindan dalam benak.
“Dan itu karena kami berbeda. Ini semua karena perbedaan. Karena perbedaanlah kami jadi saling membenci dalam diam.” Timpal Neneng di antara tangisnya.
Aku semakin tidak megerti dengan kelas ini.
***
Letak Citomo sangat jauh dari pusat kabupaten Garut. Tidak ada satu angkutan umum yang berani memutar rodanya hingga ke Citomo. Hanya bisa menaiki angkutan umum sampai Cilampuyang saja, lalu dari Cilampuyang harus menaiki ojeg. Tarifnya dipatok sekitar dua puluh ribu rupiah. Cukup mahal, sebab memang tempuhan jalannya menun cukup tajam. Tak sampai di situ saja, setelah sekitar 2 km naik ojeg, masih ada tempuahn yang harus dilewati. Yaitu berjalan kaki sepanjang 1,5 km menuruni jalan setapak, melewati hutan berpepohonan rimbun.
Citomo memiliki satu sekolah menengah pertama. Berdiri di antara hamparan hijau padi. Sekolahnya kecil, hanya memiliki 6 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 2 bilik toilet, dan ruang guru beserta ruang kepala sekolah. Ruangan kelasnya pun hanya berukuran 6 x 10 m. Pembagian kelas di sana, sesuai tingkat kepintaran. Setiap tingkat (7,8,9) ada dua kelas : kelas A untuk para siswa pintar dan rata-rata memiliki ekonomi mencukup, sisanya kelas B. Kelas B-lah sebuah kelas penyisaan, terdapatnya siswa-siswi yang beraneka ragam dari segi apapun, baik kepribadian maupun ekonomi.
Walaupun terpencil hingga nyaris terlupakan, Citomo masih memegang teguh budaya Sunda. Tarian ketuk tilu masih hidup, tetap berkibar di tanah Citomo. Padahal, di banyak daerah tari ketuk tilu sudah menghilang. Karena memang, tarian ketuk tilu sudah berkembang menjadi tari jaipong. Menurut sejarahnya, tarian ketuk tilu dilakukan sebagai upacara adat setiap menyambut panennya padi. Dulu, tarian ketuk tilu itu dipersembahkan kepada Dewi Sri—dewi padi dalam kepercayaan rakyat Sunda. Akan tetapi, dewasa ini penduduk Citomo sudah memiliki agamanya masing-masing. Niat untuk mempersembahkan kepada Dewi Sri-nya pun dihapuskan.
Untuk melestarikan tarian ketuk tilu, bila panen padi akan tiba di Citomo  diadakan pentas tarian ketuk tilu dari berbagai lapisan penduduk. Dari mulai anak SD, SMP, SMA, karang taruna, hingga para orang tua. Pentas tari itu ditonton oleh seluruh penduduk Citomo tanpa pengecualian.
Sudah dua tahun berturt-turut, saat kelas 7 dan 8, kelas 9 B –kelasnya tidak diacak, dari kelas tujuh akan sama—gagal mementaskan tari ketuk tilu. Kelas 7 mereka memang pusing akan gerakan tari ketuk tilu hingga Bu Euis, guru kesenian menyerah mengajarkan mereka. Terang saja, mereka rata-rata memiliki nilai akademis kurang. Para guru pun memandang kelas itu pudar kelas B, tidak bersinar seperti kelas A.  Ketika kelas 8, mereka ingin berubah. Mereka ingin berusaha mempelajari tari ketuk tilu agar saat pentas tidak gagal. Tapi, Bu Euis malah sibuk mengajari anak kelas A. Sama halnya seperti tahun ini, itu sebabnya mengapa sering terjadi pelajaran kosong di kelas 9 B. Para guru berbondong-bondong mengajari kelas 9 A untuk tari ketuk tilu.
Selain itu, para murid kelas 9 A jadi memandang rendah kelas 9 B. Mereka selalu menganggap pudar kelas 9 B, menganggap kelas 9B tidak bisa apa-apa karena mereka adalah murid penyisaan. Murid penyisaan yang terdiri dari latar belakang berbeda-beda. Kelas 9 A dan para guru kebanyakan menganggap, bahwa keberbedaan merupakan penghalang untuk maju.
***
“Jadi begitulah ceritanya. Bahkan kini pelajaran kosong datang ke kelas kita pun bukan karena gurunya tidak hadir, melainkan paraguru sedang mengajari kelas 9 A.” Tati yang telah bercerita panjang lebar, mengusap air matanya.
Kendati tidak mengerti, aku mencoba melihat fakta ; aku berjalan meninggalkan kelas lantas berjalan mengendap-endap di luar dan memperhatikan kelas 9 A dari celah-celah pintu. Fakta telah kudapat. Itu menamparku. Ada empat guru di dalam sana. Salah satunya adalah Bu Euis, guru kesenian. Beliau seharusnya mengajar di kelas kami, kelas 9 B. Oleh mata telanjang, aku mendapati keempat guru itu sedang menari-nari. Entah menari apa. Mungkin menari ketuk tilu, seperti yang tadi diceritakan Tati tadi. Ah, detik itu juga aku merasa iba dengan kelasku sendiri. Ini semua tidak adil, aku mencium bau diskriminasi di sini. Aku pun berlari ke kelas.
***
Aku memasuki kelas dengan gejolak kesedihan yang luar biasa, lantas kembali duduk bergabung dalam formasi lingkaran kelas 9 B. Memang beberapa menit ke belakang, akumeminta mereka menceritakan semuanya. Rupanya, mereka hangat merespons. Alhasil, kami duduk membentuk formasi melingkar di depan kelasemudian Tati mencertakan semuanya.
            Begitu aku duduk, sebuah ide terbersit. Seketika aku merasa ada bohlam di dekat kepalaku berpendar terang. “Ah, aku punya ide!” seruku bersemangat.
            Kesembilan belas temanku berlomba-lomba bertanya mengenai ideku tersebut. Mereka begitu bersemangat. Semangat mereka sukses menyulut kembali api semangatku, membuatnya berkobar-kobar hebat. Aku pun mengutarakan semua ideku. Mata penuh binar  terlihat kala aku selesai mengutarakan ideku. Semuanya memancarkan aura keoptimisan.
***
Hangatnya malam penuh gemintang menyelimuti pentas tari ketuk tilu kampung Citomo. Di atas panggung pentas—tanah beralaskan tikar anyaman khas Citomo—kami, anak 9 B telah berdiri tegak. Kami pun mengucap salam, pertanda pertunjukan telah dimulai. Semua anak 9 B menepi ke pinggir panggung, kecuali Yayah. Di tengah, ia lantang mengumandangkan madah.
Usai puisi dibacakan oleh Yayah, kedelapan temanku, Tina, Aep, Yeti, Erna, Yuli, Yusuf, Ikin, dan Ikah mementaskan sebuah drama. Drama itu bertemakan tentang tradisi tari ketuk tilu did aerah Citomo. Latarnya dibuat pada zaman dahulu, era 70-an. Hingga di adegan terakhir drama tersebut, mereka menonton pagelaran tari ketuk tilu. Sekarang, giliran aku dan kesembilan teman lainnya yang beraksi.
Alunan irama kebab, kendang indung, dan kulanter bertalu-talu,  melebur menjadi suatu kesatuan indah. Dalam alunan iringan tari ketuk tilu, sepuluh orang dari kelas 9 B memperagakan tari ketuk tilu. Ujang, Asep, Agus, Budi, Tisna, Lala, Tati, Neneng, Irun, dan Entin percaya diri menggoyangkan badan, menarikan gerakan depok, bajing luncat, oray-orayan, lengkah opat, dan karet. Mereka menggunakan kostum kampret (baju pangsi hitam) khas Sunda dengan ikat kepala dan golok yang menggantung di sabuk kulit untuk laki-laki dan menggunakan kebaya dengan celana sinjang pada bagian bawah, serta sanggul diibuat di kepala untuk perempuan.
Di ujung panggung, mulutku melantunkan lagu kidung dan erang. Dua lagu wajib pada tari ketuk tilu. Lalu, disusul oleh tiga lagu yaitu cikeruhan, cijagran, dan mamang. Tanpa terasa, pertunjukan dari kelas 9 B pun selesai. Pada saat itu, tepukan tangan ramai terdengar. Menggema ke seluruh pelosok kampung. Semaunya terpukau karena penampilan kami, kelas 9 B. Terlebih, anak kelas 9 A dan para guru, mereka kaget bukan kepalang saat tahu penampilan 9 B lebih bagus dibandingkan kelas 9 A. Pasalnya, penampilan kelas 9 B paling berbeda dengan yang lain , sebab telah dimodifikasi—bukan hanya menampilkan tari ketuk tilu saja.
Lalu, aku dan kesembilan belas anak 9 B lainnya berjajar di atas panggung. “Penampilan kami menunjukkan, bahwa perbedaan membuat suatu kesempurnaan. Kami memang tak semuanya lihai memainkan gerak tari ketuk tilu, tapi kami mempunyai kelebihan masing-masing yang bisa dimaksimalkan. Ada yang memiliki bakat menyanyi, berpuisi, dan berdrama. Jadi, bukalah mata mulai sekarang. Yang berbeda tak sepatutnya untuk dipandang rendah.”
Lagi-lagi, tepuk tangan ramai terdengar. Memeriahkan kampung Citomo. Detik ini juga, kami—para siswa kelas 9 B—tidak malu lagi dengan keberbedaan yang kami miliki, justru kami bisa bahagia dalam keberbedaan ini.
Dan penampilan kelas kami tadi, telah mengonsolidasi semua warga kampung Citomo bahwa perbedaan bukan sebuah halangan untuk menuju kesempurnaan.
Malam ini, kelas 9 B sukses mengangkasa. Mengangkasa dalam pudar mereka, yang sebenarnya pudar itu adalah sinar terpendam. Sinar yang benar-benar bersinar.

Note :
Ini yang namanya Asih? Aduh, cantik sekali bukan main.


Bandung, Agustus 2017
M. Rafid Nadhif R.

***
Heyyo guys, jadi ini cerita pendek-ku yang diikutkan di Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017. Dan cerpen ini belum bisa mengantarkan aku menjadi wakil Jawa Barat di ARKI 2017 itu, heehee :) Tapi gapapa, karena yang penting itu udah mencoba. Lagian kan, yang Allah nilai itu prosesnya, bukan hasilnya. Agree?
Tema cerpen di ARKI 2017 ini "Bahagia dalam Perbedaan".
Dan kritik, saran, pendapat sangat dibutuhkan bangeet. And the last, jangan lupa kalau cerpen itu punya hak cipta di diriku :)

P.s : aku ngepost ini karena terinspirasi sama Kak Salsabila Azzahra dan emang apda dasarnya aku mau ngepost juga sihh. Yuhuuu

3 komentar: