Minggu, 15 Oktober 2017

Menepis Pudar Melukiskan Sinar (Artikel Ilmiah Populer)



Menepis Pudar Melukiskan Sinar
Muhammad Rafid Nadhif R
            Membaca ibaratkan sebuah jalan untuk menuju suatu kemenangan. Jalan yang menuntun pembacanya untuk membuka luasnya cakrawala, melihat dengan berbagai perspektif yang berbeda.
Seperti layaknya emas, membaca sangat berharga dan bernilai tinggi. Namun sayang, kendati membaca lebih berharga daripada emas, banyak orang menganggap membaca sebelah mata. Rasa malas acapkali menguasai diri tatkala panggilan jiwa memaksa untuk membaca sebuah tulisan. Dan atas dasar pemikiran membaca tidak berharga itulah, mengantarkan Indonesia menjadi peringkat ke-61 dari 61 negara  dalam minat membaca dalam studi Most Littered Nation in The World 2016 lalu.
Peringkat Indonesia nyaris bertengger di posisi terakhir. Indonesia berada di posisi kedua terbawah, diapit oleh Thailand di atasnya dan Bostwana di bawahnya. Sangat prihatin memang. Tapi, mau dikatakan apa lagi. Memang benar pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih enggan untuk membaca.
            Walaupun Indonesia sudah terperosok pada jurang keengganan membaca, masih banyak harapan untuk meroket lalu menggaet peringkat teratas dalam minat membaca. Satu-satunya cara ialah membenahi pemikiran dan perilaku masyarakat Indonesia dalam dunia literasi. Harus ditanamkan budaya baca dalam setiap individu. Untuk mewujudkan hal itu, bisa dimulai dari membudayakan membaca di kalangan pelajar. Dalam hal ini, pemerintah sudah menjelaskan sedari lama pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no 20/ 2003 pasal 4 ayat 5, bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, dewasa ini pemerintah sedang giat menggalakan budaya gemar membaca untuk para pelajar. Dibuktikan dengan adanya program 15 menit membaca buku non-pelajaran sebelum belajar.
            Sekolah dasar, menjadi tingkatan sekolah yang paling diharapkan. Karen ajika ditanamkan sejak dini, akan terus lama tertanam. Seperti dalam berpikir, usia muda sangat mudah menjejalkan materi-materi akademik daripada di usia senja. Maka dari itu, perlunya menumbuhkan budaya membaca yang giat di sekolah dasar.
            Agar budaya baca itu bisa tumbuh di sekolah dasar, maka dibutuhkan beberapa program yang mendukung. Diantaranya adalah,
1. Membaca Buku yang Disukai
Pada dasarnya, anak-anak cenderung memiliki rasa mudah bosan. Anak-anak menyukai apa yang ia sukai dan hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan. Jadi, siswa sekolah dasar diajak untuk membaca buku yang disukai. Seperti misalnya, terdapat tiga anak bernama A, B, dan C. A sangat menyukai boneka, B menyukai sepak bola, dan C menyukai  memasak. Lalu, A, B, dan C digiring untuk membaca buku tentang bonka untuk si A, sepak bola untuk si B, dan buku berbau masakan untuk si C. Dengan begitu, anak-anak terasa nyaman dan menikmati dalam membaca.
2. Membaca Buku Fiksi yang Berkaitan dengan Materi
Untuk menumbuhkan minat membaca, selain dengan membaca buku tentang bidang kesukaan masing-masing mungkin bisa dengan cara menyempatkan waktu membaca bacaan fiksi tentang materi pelajaran. Tentu ceritanya harus yang mengasyikkan. Contoh dalam program ini, seorang guru sedang mengajarkan materi pecahan matematika. Sebelum menginjak materi tersebut, diadakan terlebih dahulu membaca bersama buku fiksi tentang materi pecahan tersebut (misalnya cerita tentang perjalanan pizza yang dipecah menjadi beberapa bagian lalu dibagi ke beberapa orang). Sistemnya adalah duduk melingkar di lantai atau duduk seperti biasa di kursi masing-masing. Atau jika memang bahan bacaan fiksi tentang materi tersebut tidak ada, sebelum menginjak materi yang akan diajarkan, guru tersebut harus menyuruh anak-anak membaca sebuah buku dan jika telah selesai, guru tesebut meminta kepada anak-anak untuk menyangkutpautkan cerita yang telah dibaca tentang materi yang hendak diajarkan. Jadi, misalnya seorang guru akan mengajarkan tentang sistem rangka. Para siswa diminta untuk membaca buku apapun. Sebut saja Z membaca buku tentang dongeng kancil. Guru tersebut harus menjelaskan, dari buku tersebut disangkutpautkan dengan rangka. Misalnya guru tersebut mengatakan bahwa jika tidaka da rangka, tokoh kancil dalam dongeng itu takkan bisa menjadi ini, tak bsia melakukan itu.
3. Menciptakan Sudut Bacaan
Program lainnya yang mungkin bisa mengoptimalisasikan tumbuhnya budaya baca di sekolah dasar adalah membuat sudut baca di gedung sekolah. Jadi dibuatlah tempat untuk menyimpan buku-buku menarik di tempat yang strategis. Di kantin misalnya, sediakan buku-buku di sana. Atau di kelas-kelas harus disediakan berbagai jenis bacaan. Sehingga, jika dilewati terus-menerus oleh siswa, bisa membuat siswa ikut tertarik untuk membacanya.
4. Membuat Mading Kelas
Berangkat dari kegemaran anak-anak yang langsung suka dengan yang berbau menarik, maka membuat mading bisa menjadi alternatif juga untuk menggugah budaya baca untuk ukuran anak SD. Kronologis lebih lanjut, dalam setiap kelas dibuatkan mading di tembok yang kosong. Tentunya, tidak lain dan tidak bukan mading harus menarik. Beragam warna serta hiasan harus menghiasi mading tersebut. Setelah tersedia mading di masing-masing kelas, setiap siswa harus mengisi mading itu dengan artikel-artikel yang bisa didapat dari internet, majalah, atau pun koran. Selain artikel, bisa juga diisi dengan cerita pendek dan puisi. Siswa yang mengisi mading itu sesuai jadwal piket. Mading ini bisa diganti seminggu sekali atau tergantung keputusan gurunya. Misalnya, siswa-siswi yang piket pada hari Senin wajib mencari bahan mading pada minggu ini, lalu piket Selasa minggu depan, begitu seterusnya. Satu siswa minimal mencari satu bahan mading, maksimal banyak. Dengan program ini, pembuat mading otomatis membaca terlebih dahulu isi mading yang  ia cari. Selain itu, siswa-siswi pun bisa tertarik membaca mading tersebut. Walaupun isi mading itu sedikit, tapi setidaknya siswa-siswi telah melakukan kegiatan membaca. Dan bila rutin diganti dalam waktu yang ditentukan, akan menciptakan “candu” bagi si pembaca.
5. Satu Bintang Satu Buku
Terakhir, menumbuhkan budaya baca di lingkunan SD bisa dioptimalisasikan dengan membuat program SBSB. SBSB merupakan singkatan dari Satu Bintang Satu Buku. Artinya, jika sudah membaca buku siswa tersebut akan mendapatkan satu bintang. Bintang-bintang itu harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Yang mendapatkan bintang terbanyak hingga akhir tahun akan mendapatkan reward. Rewardnya disesuaikan keadaan sekolah. Sejatinya, apapun bisa dijadikan reward. Tidak terbatas oleh hadiah-hadiah unik nan cantik yang mahal saja.
Itulah kelima cara yang bisa menumbuhkan minat baca di sekolah dasar. Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju roma. Sebenarnya masih banyak pula jalan-jalan lainnya untuk mewujudkan tumbuhnya minat baca di kalangan siswa sekoalh dasar. Semuanya sama saja, asalkan semua program itu harus konsisten berjalan. Tidak sebentar setelah diluncurkan heboh dan gencar dilaksanakan, tapi setelahnya tidak dijalankan. Kalau tidak konsisten program-program menumbuhkan budaya baca itu dilaksanakan, bagaimana bisa para pelajar Indonesia jadi jatuh cinta dengan buku?
Kunci awal untuk mau membaca adalah kemauan. Apabila tidak didasari kemauan, pasti akan sulit untuk memabca beberapa untaian kalimat. Untuk mendapatkan kemauan, bisa didapati dengan berbagai cara contohnya seperti lima hal yang diuraikan sebelumnya.
Intinya, siswa sekolah dasar memang harus diperkenalkan dan harus ditumbuhkan minat baca agar masyarakat Indonesia tidak lagi berada di peringkat kedua terbawah dalam hal minat baca.
Usaha dari guru, kepala sekolah, dan pemerintah harus nyala sneyala-nyalanya bak kobaran hebat api supaya program-program menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar bisa terlaksana. Setelah terlaksana baik, bisa dipastikan satu per satu siswa-siswi pelajar sekolah dasar akan mencintai buku. Bahkan bisa jadi, di masa yang akan datang, buku bukan lagi sebagai penghibur tapi sebagai kebutuhan.
Untuk siswa-siswi kelas 1-3, pembiasaan membaca bisa dimulai dari membaca buku yang memiliki banyak warna dan gambar. Karen ajika terdapat banyak sekali gambar, akan menimbulkan kebahagiaan bagi anak berusia kelas 1-3. Buku berbubuhkan banyak gambar pun membuat mereka tidak tenggelam dalam kebosanan.
Sedangkan untuk siswa-siswi kelas4-6, tidak bergambar juga tidak apa-apa. Namun memang, jika masih ada yang sangat benci dengan membaca buku tidak bergambar, bisa ditawari dengan membaca buku bergambar. Memang pada kenyataannya, anak-anak lebih suka membaca buku yang bergambar.
Agar Indonesia bisa menggapai urutan pertama dalam minat membaca, giat menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar adalah salah satu caranya. Karena benar, siswa sekoalh dasar adalah genarasi muda Indonesia. Jika generasi muda-nya saja sudah tidak suka memabaca, apalagi nanti?
Masih ada secercah harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Membaca sebenarnya sangat berharga. Membaca bagai raja siang. Ia acapkali memancarkan sinar di singgasananya. Ya, membaca memang sesuatu yang bersinar. Sesuatu yang ajaib, karena bisa membuka mata kita, membuka wawasan dan pengetahuan kita. Namun sayang, membaca kini dianggap buruk. Dianggap pudar, padahal bersinar.
Tunggu apa lagi? Tepis pudar, lukiskan sinar. Tunjukkan bahwa membaca adalah benar-bener berharga ; benar-benar memiliki sinar yang sejatinya sinar itu benar-benar bersinar, bukan pudar.
Bila pelajar sekolah dasar di Indonesia telah menanamkan erat budaya baca, maka tidak ada kata mustahil untuk Indonesia meraih urutan pertama dalam hal minat membaca.

Bandung, 15 Oktober 2017

Selasa, 03 Oktober 2017

Mengangkasa dalam Pudar (Cerpen)


Mengangkasa dalam Pudar
M. Rafid Nadhif R.
            Napasku terengah-engah tak beraturan, saling susul menysul tanpa jeda. Bagai pelari yang sedang beradu kecepatan dalam arena lomba maraton. Meski aku sudah mencoba menghentikannya ; memaksanya agar beritme seperti sediakala.
            Seorang guru berwajah teduh memanggilku. Sepersekian detik merayap, tangan dengan pancaran kasih sayang merangkul pundakku.
“Ieu nu namina Asih teh? Aduh, meuni geulis kabina-bina.”
Aku tersipu, kemudian berjalan beriringan bersama guru tersebut. Memasuki sebuah gedung semi bobrok, yang kau percaya atau tidak itu adalah sekolah baruku.
***
            Hening mendominasi kelas berukuran 6 x 10 meter yang kini sedang aku pijaki. Semuanya duduk rapi di masing-masing bangku, tenggelam dalam kesibukannya masing-masing. Begitu pula aku, sang murid baru di sekolah ini. Mataku tak henti-hentinya berkelana ke sana-kemari, menyapu pandangan.
Jendela-jendela rapuh tanpa kaca berjejer rapi di dinding kelas. Membiarkan teriknya sinar matahari menyeruak masuk ke dalam kelas bersamaan dengan desiran angin yang kadangkala menusuk kulit. Dinding berlapis cat putih, terkelupas sedikit demi sedikit. Membuka, membuka, dan terus membuka bagai sepatu jebol menganga hingga akhirnya terbang tanpa daya ke tanah. Ya, tanah. Bukan keramik kaca, lantai pualam, atau semacamnya. Hanya tanah.
Hening terus menghinggapi kelas, tidak ada satu mulut pun melayangkan kata-kata. Ini  bertolak belakang dengan kelasku kini. Jika mereka di sini sangat membiarkan suara-suara kecil mendominasi, maka mereka di sana –para teman-temanku dulu—memusnahkan suara-suara kecil, menggantikannya oleh suara masing-masing. Setiap pelajaran kosong menjemput, kelas seketika gaduh tiada terkira. Berbagai kesibukan dilakukan, berbagai kebahagiaan melayang-layang. Bersatu dalam partikel udara yang mengalir di seisi kelas.
Semenjak aku bersekolah di sini, kurasa aku pantas dinobatkan menjadi makhluk paling tidak bersyukur. Relung-relung hatiku selalu mengutuk semesta. Dinding-dinding kalbuku acap kali berteriak tak terima realita. Setiap detik aku habiskan untuk melontarkan gerutuan-gerutuan. Semua ketidak bersyukuranku, semua gerutuan-gerutuanku, semua rutukanku, pada akhirnya bermuara pada tema ketidakadilan Tuhan. Bukankah begitu adanya?
Ketika aku sedang menikmati indahnya masa putih biruku di sebuah sekolah favorit kota Bandung, aku harus menghilang dari semua itu. Duniaku direnggut. Takdirku menuntuntunku untuk memulai perjalanan dan dunia baru. Yaitu pindah ke sebuah daerah terpencil yang pada saat awal mendengarnya saja aku tergelitik. Daerah itu bernama Citomo. Berada di Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Jauh dari hikuk pikuk kota, jauh dari ingar bingar tembok beton. Pada awalnya, aku memberontak. Meluapkan semua amarahku, berharap Ibu mendengarkan keluh kesahku. Tapi, Ibu tetap saja tegas dan bersikeras. Selalu saja Ibu berkata kepadaku, “Ini tugas negara, nak. Ibu harus menjadi dokter di daerah terpencil dulu selama beberapa tahun. Mau tidak mau,  kamu harus ikut. Kalau tidak ikut, kamu mau tinggal di mana? Akan menyulap jalanan menjadi rumah?”
Aku menghela napas panjang, tak lupa untuk mengeluarkan kawanan karbondioksida-nya. Hening dan tetap hening. Hinga kapan keheningan ini akan berakhir? Entah karena naluri apa, tiba-tiba aku spontan berdiri. Lantas berjalan menuju depan kelas. Aku seperti dikendalikan oleh seseorang, namun pada realitanya tidak ada.
Di depan kelas, aku mengulum senyum. Membiarkan mulut merah delimaku merekah indah, menyiratkan buih-buih cinta. Kompak, sembilan belas teman di hadapanku mengarahkan fokusnya kearahku. Memperhatikan lamat-lamat seorang Larasati Weningasih yang tengah menebarkan senyum termanisnya.
“Ehm,” dehamanku merobek keheningan. Jantungku berdegup kencang. Pada akhirnya, kata demi kata terucap dari bibirku. “Maaf sebelumnya aku mengganggu keheningan kalian. Tapi aku merasa terganjal dengan suasana amat hening ini. Di Bandung, saat pelajaran kosong kelasku selalu ribut minta ampun. Mengapa di sini kalian saling mengunci mulut?”
 “Aku yakin, orang-orang Citomo itu baik dan asyik. Pada awalnya, aku menolak pindah ke daerah terpencil seperti di sini. Tapi Ibuku tetap tegas karena memang kewajiban beliau pindah ke sini. Maka mau tidak mau aku harus ikut.” Karena tidak kuat berbicara lama, aku bernapas sejenak. Lalu kembali menghela napas, bersiap kembali berbicara. “Sebelum pindah ke sini, aku benar-benar mengumpulkan niat. Setiap istirahat menjelang, aku mengajak teman-teman untuk shalat Dhuha. Aku limpahkan semuanya di atas selembar sajadah. Usai shalat, aku dan para sahabatku ke kantin sembari mendengarkan curhatku.”
“Tapi, kenapa kalian begini? Jangan sampai kalian membuatku menyesal pindah ke sini. Aku telah berharap banyak dari kalian.” Suaraku memelan.
Untuk pertama kalinya hening tak hinggap lagi di kelas ini. Kelas mulai ramai, walau intensitas suaranya sangat kecil. Dan… Alangkah kagetnya aku kala aku tahu, seluruh teman perempuanku mengeluarkan kristal-kristal bening dari kelopak matanya. Aku tertegun, semakin penasaran. Ada apa dengan mereka?
Di sudut belakang kanan kelas, seorang anak laki-laki berhidung mancung bak puncak gunung Everest berdiri. Aku lupa siapa namanya, kalau tidak salah dari A.
“Asih, kami punya cerita. Benar, masyarakat Citomo memang mengasyikan dan ramah, begitu pula kami. Dulu, rasa kekeluargaan yang kentara ada di kelas kami. Namun kami begini karena suatu hal..” Ia membuka suara, seakan bisa menebak apa isi pikiranku. Kemudian ia gantungkan kata-katanya, membuat rasa penasaranku bertambah. Berkelindan dalam benak.
“Dan itu karena kami berbeda. Ini semua karena perbedaan. Karena perbedaanlah kami jadi saling membenci dalam diam.” Timpal Neneng di antara tangisnya.
Aku semakin tidak megerti dengan kelas ini.
***
Letak Citomo sangat jauh dari pusat kabupaten Garut. Tidak ada satu angkutan umum yang berani memutar rodanya hingga ke Citomo. Hanya bisa menaiki angkutan umum sampai Cilampuyang saja, lalu dari Cilampuyang harus menaiki ojeg. Tarifnya dipatok sekitar dua puluh ribu rupiah. Cukup mahal, sebab memang tempuhan jalannya menun cukup tajam. Tak sampai di situ saja, setelah sekitar 2 km naik ojeg, masih ada tempuahn yang harus dilewati. Yaitu berjalan kaki sepanjang 1,5 km menuruni jalan setapak, melewati hutan berpepohonan rimbun.
Citomo memiliki satu sekolah menengah pertama. Berdiri di antara hamparan hijau padi. Sekolahnya kecil, hanya memiliki 6 ruang kelas, 1 ruang perpustakaan, 2 bilik toilet, dan ruang guru beserta ruang kepala sekolah. Ruangan kelasnya pun hanya berukuran 6 x 10 m. Pembagian kelas di sana, sesuai tingkat kepintaran. Setiap tingkat (7,8,9) ada dua kelas : kelas A untuk para siswa pintar dan rata-rata memiliki ekonomi mencukup, sisanya kelas B. Kelas B-lah sebuah kelas penyisaan, terdapatnya siswa-siswi yang beraneka ragam dari segi apapun, baik kepribadian maupun ekonomi.
Walaupun terpencil hingga nyaris terlupakan, Citomo masih memegang teguh budaya Sunda. Tarian ketuk tilu masih hidup, tetap berkibar di tanah Citomo. Padahal, di banyak daerah tari ketuk tilu sudah menghilang. Karena memang, tarian ketuk tilu sudah berkembang menjadi tari jaipong. Menurut sejarahnya, tarian ketuk tilu dilakukan sebagai upacara adat setiap menyambut panennya padi. Dulu, tarian ketuk tilu itu dipersembahkan kepada Dewi Sri—dewi padi dalam kepercayaan rakyat Sunda. Akan tetapi, dewasa ini penduduk Citomo sudah memiliki agamanya masing-masing. Niat untuk mempersembahkan kepada Dewi Sri-nya pun dihapuskan.
Untuk melestarikan tarian ketuk tilu, bila panen padi akan tiba di Citomo  diadakan pentas tarian ketuk tilu dari berbagai lapisan penduduk. Dari mulai anak SD, SMP, SMA, karang taruna, hingga para orang tua. Pentas tari itu ditonton oleh seluruh penduduk Citomo tanpa pengecualian.
Sudah dua tahun berturt-turut, saat kelas 7 dan 8, kelas 9 B –kelasnya tidak diacak, dari kelas tujuh akan sama—gagal mementaskan tari ketuk tilu. Kelas 7 mereka memang pusing akan gerakan tari ketuk tilu hingga Bu Euis, guru kesenian menyerah mengajarkan mereka. Terang saja, mereka rata-rata memiliki nilai akademis kurang. Para guru pun memandang kelas itu pudar kelas B, tidak bersinar seperti kelas A.  Ketika kelas 8, mereka ingin berubah. Mereka ingin berusaha mempelajari tari ketuk tilu agar saat pentas tidak gagal. Tapi, Bu Euis malah sibuk mengajari anak kelas A. Sama halnya seperti tahun ini, itu sebabnya mengapa sering terjadi pelajaran kosong di kelas 9 B. Para guru berbondong-bondong mengajari kelas 9 A untuk tari ketuk tilu.
Selain itu, para murid kelas 9 A jadi memandang rendah kelas 9 B. Mereka selalu menganggap pudar kelas 9 B, menganggap kelas 9B tidak bisa apa-apa karena mereka adalah murid penyisaan. Murid penyisaan yang terdiri dari latar belakang berbeda-beda. Kelas 9 A dan para guru kebanyakan menganggap, bahwa keberbedaan merupakan penghalang untuk maju.
***
“Jadi begitulah ceritanya. Bahkan kini pelajaran kosong datang ke kelas kita pun bukan karena gurunya tidak hadir, melainkan paraguru sedang mengajari kelas 9 A.” Tati yang telah bercerita panjang lebar, mengusap air matanya.
Kendati tidak mengerti, aku mencoba melihat fakta ; aku berjalan meninggalkan kelas lantas berjalan mengendap-endap di luar dan memperhatikan kelas 9 A dari celah-celah pintu. Fakta telah kudapat. Itu menamparku. Ada empat guru di dalam sana. Salah satunya adalah Bu Euis, guru kesenian. Beliau seharusnya mengajar di kelas kami, kelas 9 B. Oleh mata telanjang, aku mendapati keempat guru itu sedang menari-nari. Entah menari apa. Mungkin menari ketuk tilu, seperti yang tadi diceritakan Tati tadi. Ah, detik itu juga aku merasa iba dengan kelasku sendiri. Ini semua tidak adil, aku mencium bau diskriminasi di sini. Aku pun berlari ke kelas.
***
Aku memasuki kelas dengan gejolak kesedihan yang luar biasa, lantas kembali duduk bergabung dalam formasi lingkaran kelas 9 B. Memang beberapa menit ke belakang, akumeminta mereka menceritakan semuanya. Rupanya, mereka hangat merespons. Alhasil, kami duduk membentuk formasi melingkar di depan kelasemudian Tati mencertakan semuanya.
            Begitu aku duduk, sebuah ide terbersit. Seketika aku merasa ada bohlam di dekat kepalaku berpendar terang. “Ah, aku punya ide!” seruku bersemangat.
            Kesembilan belas temanku berlomba-lomba bertanya mengenai ideku tersebut. Mereka begitu bersemangat. Semangat mereka sukses menyulut kembali api semangatku, membuatnya berkobar-kobar hebat. Aku pun mengutarakan semua ideku. Mata penuh binar  terlihat kala aku selesai mengutarakan ideku. Semuanya memancarkan aura keoptimisan.
***
Hangatnya malam penuh gemintang menyelimuti pentas tari ketuk tilu kampung Citomo. Di atas panggung pentas—tanah beralaskan tikar anyaman khas Citomo—kami, anak 9 B telah berdiri tegak. Kami pun mengucap salam, pertanda pertunjukan telah dimulai. Semua anak 9 B menepi ke pinggir panggung, kecuali Yayah. Di tengah, ia lantang mengumandangkan madah.
Usai puisi dibacakan oleh Yayah, kedelapan temanku, Tina, Aep, Yeti, Erna, Yuli, Yusuf, Ikin, dan Ikah mementaskan sebuah drama. Drama itu bertemakan tentang tradisi tari ketuk tilu did aerah Citomo. Latarnya dibuat pada zaman dahulu, era 70-an. Hingga di adegan terakhir drama tersebut, mereka menonton pagelaran tari ketuk tilu. Sekarang, giliran aku dan kesembilan teman lainnya yang beraksi.
Alunan irama kebab, kendang indung, dan kulanter bertalu-talu,  melebur menjadi suatu kesatuan indah. Dalam alunan iringan tari ketuk tilu, sepuluh orang dari kelas 9 B memperagakan tari ketuk tilu. Ujang, Asep, Agus, Budi, Tisna, Lala, Tati, Neneng, Irun, dan Entin percaya diri menggoyangkan badan, menarikan gerakan depok, bajing luncat, oray-orayan, lengkah opat, dan karet. Mereka menggunakan kostum kampret (baju pangsi hitam) khas Sunda dengan ikat kepala dan golok yang menggantung di sabuk kulit untuk laki-laki dan menggunakan kebaya dengan celana sinjang pada bagian bawah, serta sanggul diibuat di kepala untuk perempuan.
Di ujung panggung, mulutku melantunkan lagu kidung dan erang. Dua lagu wajib pada tari ketuk tilu. Lalu, disusul oleh tiga lagu yaitu cikeruhan, cijagran, dan mamang. Tanpa terasa, pertunjukan dari kelas 9 B pun selesai. Pada saat itu, tepukan tangan ramai terdengar. Menggema ke seluruh pelosok kampung. Semaunya terpukau karena penampilan kami, kelas 9 B. Terlebih, anak kelas 9 A dan para guru, mereka kaget bukan kepalang saat tahu penampilan 9 B lebih bagus dibandingkan kelas 9 A. Pasalnya, penampilan kelas 9 B paling berbeda dengan yang lain , sebab telah dimodifikasi—bukan hanya menampilkan tari ketuk tilu saja.
Lalu, aku dan kesembilan belas anak 9 B lainnya berjajar di atas panggung. “Penampilan kami menunjukkan, bahwa perbedaan membuat suatu kesempurnaan. Kami memang tak semuanya lihai memainkan gerak tari ketuk tilu, tapi kami mempunyai kelebihan masing-masing yang bisa dimaksimalkan. Ada yang memiliki bakat menyanyi, berpuisi, dan berdrama. Jadi, bukalah mata mulai sekarang. Yang berbeda tak sepatutnya untuk dipandang rendah.”
Lagi-lagi, tepuk tangan ramai terdengar. Memeriahkan kampung Citomo. Detik ini juga, kami—para siswa kelas 9 B—tidak malu lagi dengan keberbedaan yang kami miliki, justru kami bisa bahagia dalam keberbedaan ini.
Dan penampilan kelas kami tadi, telah mengonsolidasi semua warga kampung Citomo bahwa perbedaan bukan sebuah halangan untuk menuju kesempurnaan.
Malam ini, kelas 9 B sukses mengangkasa. Mengangkasa dalam pudar mereka, yang sebenarnya pudar itu adalah sinar terpendam. Sinar yang benar-benar bersinar.

Note :
Ini yang namanya Asih? Aduh, cantik sekali bukan main.


Bandung, Agustus 2017
M. Rafid Nadhif R.

***
Heyyo guys, jadi ini cerita pendek-ku yang diikutkan di Akademi Remaja Kreatif Indonesia 2017. Dan cerpen ini belum bisa mengantarkan aku menjadi wakil Jawa Barat di ARKI 2017 itu, heehee :) Tapi gapapa, karena yang penting itu udah mencoba. Lagian kan, yang Allah nilai itu prosesnya, bukan hasilnya. Agree?
Tema cerpen di ARKI 2017 ini "Bahagia dalam Perbedaan".
Dan kritik, saran, pendapat sangat dibutuhkan bangeet. And the last, jangan lupa kalau cerpen itu punya hak cipta di diriku :)

P.s : aku ngepost ini karena terinspirasi sama Kak Salsabila Azzahra dan emang apda dasarnya aku mau ngepost juga sihh. Yuhuuu